Tekanan Perang dan Sanksi Memperparah Krisis Ekonomi
Iran menghadapi krisis ekonomi yang semakin dalam akibat kombinasi perang, sanksi internasional, inflasi tinggi, dan perlambatan ekonomi. Para ekonom memperingatkan kondisi ini berpotensi mendorong jutaan warga tambahan ke bawah garis kemiskinan dalam waktu dekat.
Profesor ekonomi Hojattollah Mirzaei dari Universitas Allameh Tabataba'i memperkirakan antara 3,5 juta hingga 4,5 juta orang akan jatuh miskin tahun ini sebagai dampak langsung dari konflik dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Inflasi Melonjak, Daya Beli Rakyat Anjlok
Krisis paling terasa pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Data Bank Sentral Iran menunjukkan inflasi tahunan telah mencapai lebih dari 50,6 persen pada April, sementara beberapa barang dan jasa mengalami kenaikan harga hingga 100 persen.
Kenaikan harga tersebut tidak diimbangi pertumbuhan upah, sehingga daya beli masyarakat terus menurun. Nilai tukar yang melemah, pembatasan impor, biaya transportasi yang meningkat, serta defisit anggaran pemerintah semakin memperburuk situasi.
Ekonom terkemuka Masoud Nili memperingatkan Iran berisiko terjebak dalam spiral inflasi yang semakin sulit dikendalikan meskipun ketegangan militer mereda.
Ekonomi Menyusut dan Lapangan Kerja Menghilang
Selain inflasi, Iran juga menghadapi kontraksi ekonomi yang tajam. Mirzaei memperkirakan ekonomi negara itu akan menyusut antara 8,8 hingga 10 persen pada tahun fiskal berjalan.
Dampaknya terlihat jelas di pasar tenaga kerja. Penciptaan lapangan kerja menurun drastis, terutama di sektor industri yang mengalami kerugian besar pasca-konflik.
Fenomena baru juga muncul, yakni meningkatnya jumlah "pekerja miskin" — warga yang tetap memiliki pekerjaan namun pendapatannya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup.
Iran Berupaya Mencairkan Aset yang Dibekukan
Untuk mengurangi tekanan ekonomi, pemerintah Iran berupaya mendapatkan akses terhadap sekitar 24 miliar dolar AS aset yang saat ini masih dibekukan di berbagai bank luar negeri.
Pemerintah berharap dana tersebut dapat membantu menstabilkan nilai tukar mata uang, menekan inflasi, serta mengurangi biaya impor bahan pokok dan bahan baku industri.
Namun para ekonom menilai langkah tersebut hanya akan memberikan bantuan sementara karena akar masalah ekonomi Iran bersifat struktural dan telah berlangsung lama.
Pendapatan Minyak Masih Terhambat
Iran juga berharap tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat dapat membuka kembali akses terhadap pendapatan minyak yang selama ini terhambat oleh sanksi.
Menurut laporan TankerTrackers, sekitar 60 juta barel minyak senilai 6 miliar dolar AS saat ini masih tertahan di kapal tanker dan belum dapat dipasarkan secara bebas.
Meski demikian, para analis menilai pencabutan sanksi saja tidak cukup untuk memulihkan ekonomi secara menyeluruh karena investasi domestik maupun asing masih sangat lemah.
Iran Termasuk Negara Paling Rentan terhadap Guncangan Ekonomi
Kerapuhan ekonomi Iran tercermin dalam indeks ketahanan lingkungan bisnis global yang disusun oleh Factory Mutual Insurance Company. Dalam daftar yang menilai kemampuan 130 negara menghadapi dan pulih dari guncangan ekonomi, Iran berada di peringkat ke-125.
Posisi tersebut jauh tertinggal dibanding negara-negara Teluk seperti Qatar dan Arab Saudi yang masuk dalam kelompok 50 ekonomi paling tangguh di dunia.
Iran kini menghadapi kombinasi tekanan yang berat: inflasi tinggi, kontraksi ekonomi, meningkatnya pengangguran, dan berkurangnya daya beli masyarakat. Meski pemerintah berupaya mencairkan aset yang dibekukan dan mendorong negosiasi dengan Amerika Serikat, para ekonom menilai pemulihan ekonomi akan sulit tercapai tanpa reformasi struktural yang mendalam dan peningkatan investasi jangka panjang. Jika kondisi saat ini berlanjut, jutaan warga Iran berisiko semakin terperosok ke dalam kemiskinan.

0 Komentar untuk "Ekonomi Iran Terpuruk: Jutaan Warga Terancam Jatuh ke Jurang Kemiskinan"