SEPUTAR KOMPUTER DAN INFORMASI

Perwakilan Israel di Dewan Keamanan PBB menegaskan posisi negaranya terkait insiden yang menimpa pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan.

 

Dalam pernyataannya, Israel menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga pasukan UNIFIL yang gugur dalam insiden terbaru. Mereka menyatakan menghormati pengabdian para penjaga perdamaian yang bertugas di wilayah konflik dengan risiko tinggi setiap hari.

Israel mengonfirmasi bahwa pada 30 Maret, pasukan UNIFIL terkena ledakan di dekat Bani Hayan. Namun terkait insiden sebelumnya pada 29 Maret di wilayah Al-Qasar yang menewaskan personel UNIFIL, Israel menyatakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel atau IDF tidak menembakkan serangan di sekitar posisi tersebut.

Menurut Israel, situasi di Lebanon selatan sangat kompleks, berubah cepat, dan berbahaya. Namun mereka menegaskan bahwa konflik ini tidak terjadi begitu saja. Israel menyatakan bahwa konflik dipicu oleh serangan Hizbullah yang menembakkan roket ke wilayah Israel, yang diklaim sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran.

Sejak awal Maret, Israel menyebut lebih dari 5.000 roket, rudal, dan drone telah diluncurkan ke wilayahnya, banyak di antaranya berasal dari area selatan Sungai Litani. Serangan-serangan ini memaksa warga sipil Israel kembali berlindung di bunker, bahkan sebagian harus kembali mengungsi setelah sebelumnya sempat kembali ke rumah mereka.

Israel menuduh Hizbullah melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan 1559 dengan menempatkan peluncur roket, pusat komando, dan persenjataan di wilayah sipil, termasuk dekat dengan posisi UNIFIL. Israel menyebut langkah ini sebagai strategi disengaja untuk menempatkan pasukan PBB di tengah garis tembak.

Sebagai contoh, Israel memaparkan adanya empat peluncuran roket Hizbullah pada 9 hingga 11 Maret di dekat posisi UNIFIL 510 di wilayah Haneia. Israel mengklaim telah mengirim surat resmi kepada UNIFIL pada 22 Maret, memperingatkan bahwa wilayah tertentu berbahaya dan meminta reposisi sementara pasukan demi keselamatan mereka.

Israel juga menyatakan telah menjaga komunikasi intensif dengan markas besar PBB dan negara-negara penyumbang pasukan, serta meminta pasukan UNIFIL tetap berada di pangkalan terlindung untuk mengurangi risiko.

Dalam pidatonya, Israel turut menyoroti peran Iran dan pemerintah Lebanon. Israel menuduh Iran terus mendanai, mempersenjatai, dan mengarahkan Hizbullah. Sementara terhadap pemerintah Lebanon, Israel menyebut belum ada tindakan nyata untuk melucuti senjata Hizbullah di selatan Sungai Litani, meskipun komitmen tersebut telah disampaikan sebelumnya.

Israel juga mempertanyakan keputusan Lebanon yang disebut telah meminta duta besar Iran meninggalkan negara itu, namun hingga kini disebut belum terlaksana.

Menurut Israel, selama Hizbullah masih bersenjata dan aktif di wilayah selatan Lebanon, ancaman akan terus ada — baik bagi warga Israel, warga Lebanon, maupun pasukan UNIFIL.

Israel menegaskan tidak memiliki keinginan untuk tetap beroperasi di Lebanon, namun akan mengambil langkah yang dianggap perlu untuk melindungi warganya sesuai hukum internasional. Dalam pernyataan penutupnya, Israel menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk:

  1. Mengutuk Hizbullah secara tegas dan menetapkannya sebagai organisasi teroris.
  2. Mendesak pemerintah Lebanon memenuhi kewajibannya dan melucuti Hizbullah.
  3. Menindak peran Iran dalam pendanaan dan pengiriman senjata ke Hizbullah.

Israel menegaskan bahwa jika pihak lain gagal bertindak, maka Israel akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi rakyatnya.

0 Komentar untuk "Perwakilan Israel di Dewan Keamanan PBB menegaskan posisi negaranya terkait insiden yang menimpa pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan."

Back To Top