SEPUTAR KOMPUTER DAN INFORMASI

AKSI NYATA MODUL 1.4 DISEMINASI BUDAYA POSITIF

 

Pendahuluan

Marilah kita awali dengan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan kepada kita untuk berkumpul di ruangan ini hari ini. Saya, FERDINAND KOLY, Calon Guru Penggerak Angkatan 10 dari SMKN Alor Besar, ingin mengajak Bapak/Ibu Guru untuk menyelami sebuah topik yang sangat penting bagi masa depan pendidikan Indonesia, yaitu budaya positif di sekolah.

 

Seperti yang kita ketahui, profil pelajar Pancasila telah ditetapkan sebagai pedoman untuk pendidikan di Indonesia. Profil ini menggambarkan karakter ideal yang ingin kita tanamkan pada diri peserta didik. Untuk mencapai profil tersebut, diperlukan lingkungan belajar yang positif, aman, dan nyaman. Di sinilah peran budaya positif menjadi sangat krusial.

Selama ini, penerapan disiplin di sekolah seringkali berfokus pada sistem penghargaan dan hukuman, yang belum tentu menumbuhkan motivasi internal pada siswa. Model disiplin ini juga belum sepenuhnya berpusat pada siswa, di mana guru masih menjadi figur sentral sebagai penghukum.


Tujuan Kegiatan Desiminasi

  1. Terbentuknya tujuan pendidikan sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara.
  2. Adanya kolaborasi seluruh warga sekolah untuk penerapan budaya positif di sekolah. Timbulnya kesadaran seluruh warga sekolah 

Saya percaya bahwa dengan membangun budaya positif di sekolah, kita dapat mengantarkan peserta didik menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi untuk kemajuan bangsa.

Marilah kita bersama-sama mengikuti sosialisasi ini dengan penuh semangat dan antusiasme. Pertanyaan dan masukan dari Bapak/Ibu Guru sangatlah diharapkan untuk kelancaran dan kesuksesan acara ini.

 

Disiplin Positif

Pemahaman Umum tentang Disiplin

Banyak orang mengartikan disiplin sebagai tindakan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Hal ini sering dihubungkan dengan tata tertib, sanksi, dan hukuman bagi mereka yang melanggar aturan.

 

Pandangan Ki Hajar Dewantara tentang Disiplin

Ki Hajar Dewantara, dalam bukunya "Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka" (Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470), menyatakan bahwa untuk mewujudkan murid yang merdeka, mereka harus memiliki disiplin yang kuat, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar diri. Beliau menekankan bahwa:

  • Kemerdekaan dan disiplin harus berjalan seiring. Di mana ada kemerdekaan, di situlah harus ada disiplin yang kuat.
  • Disiplin diri adalah kunci utama. Kita sendiri yang mewajibkan diri kita dengan sekeras-kerasnya untuk disiplin.
  • Jika tidak mampu mendisiplinkan diri, diperlukan disiplin dari luar. Jika kita tidak cakap melakukan self-discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita.
  • Peraturan yang mendukung kemerdekaan diperlukan. Peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.

 

Definisi Merdeka menurut Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara, "merdeka" bukan hanya berarti terlepas dari perintah, tetapi juga cakap untuk memerintah diri sendiri.

Pandangan Diane Gossen tentang Disiplin

Diane Gossen, dalam bukunya "Restructuring School Discipline" (2001), menyatakan bahwa disiplin memiliki konotasi positif, yaitu disiplin diri yang memungkinkan seseorang menggali potensinya menuju tujuan yang bermakna. Disiplin diri diartikan sebagai:

  • Kemampuan mengontrol diri. Bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai.
  • Tanggung jawab atas tindakan. Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.

Kesimpulan

Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa murid yang memiliki disiplin positif akan memiliki motivasi internal yang tinggi untuk menguasai diri dan melakukan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal. Tugas pendidik adalah membimbing siswa untuk memiliki disiplin diri yang berasal dari diri mereka sendiri.


Slide : Kebutuhan dasar manusia

Berdasarkan teori Kontrol, perilaku manusia selalu memiliki tujuan. Dalam ruang lingkup sekolah, hal ini merujuk pada perilaku siswa. Terkadang, kita tidak menyadari bahwa setiap perilaku yang dilakukan pasti memiliki alasan dan tujuan tertentu. Penting untuk dipahami bahwa, ketika siswa menunjukkan perilaku yang tidak baik, ada kemungkinan mereka sedang berusaha memenuhi kebutuhan dasar mereka yang belum terpenuhi.

Terdapat lima kebutuhan dasar manusia yang perlu dipenuhi, yaitu:

  1. Kebutuhan Bertahan Hidup (Survival): Kebutuhan dasar ini mencakup kebutuhan fisiologis seperti makanan, air, tempat berlindung, dan keamanan.
  2. Kebutuhan Cinta dan Kasih Sayang (Penerimaan): Kebutuhan ini meliputi rasa memiliki, diterima, dan dicintai oleh orang lain.
  3. Kebutuhan Penguasaan (Pengakuan): Kebutuhan ini berkaitan dengan keinginan untuk merasa kompeten, dihargai, dan diakui atas pencapaiannya.
  4. Kebutuhan Kebebasan (Kebutuhan dan Pilihan): Kebutuhan ini terkait dengan keinginan untuk memiliki otonomi, membuat pilihan sendiri, dan mengendalikan hidup mereka.
  5. Kebutuhan akan Kesenangan: Kebutuhan ini berkaitan dengan keinginan untuk merasa bahagia, puas, dan menikmati hidup.

Memahami kebutuhan dasar siswa sangatlah penting bagi para pendidik. Dengan memahami kebutuhan dasar mereka, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan membantu siswa untuk mengembangkan perilaku yang positif.


Slide : Motivasi Perilaku Manusia

Menurut Diane Gossen dalam bukunya "Restructuring School Discipline", terdapat tiga alasan utama yang mendasari motivasi perilaku manusia, yaitu:

  1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Motivasi ini didorong oleh rasa ingin terhindar dari konsekuensi negatif, seperti rasa sakit, teguran, atau hukuman.
  2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Motivasi ini didorong oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang positif, seperti pujian, hadiah, atau pengakuan atas tindakan mereka.
  3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Motivasi ini merupakan motivasi intrinsik yang paling tinggi tingkatannya. Orang yang termotivasi oleh hal ini ingin menjadi pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai mereka dan bangga dengan diri mereka sendiri.

Motivasi nomor 3 inilah yang paling penting untuk ditanamkan dalam diri murid-murid untuk mewujudkan disiplin positif. Dengan memiliki motivasi ini, mereka akan memiliki dorongan internal yang kuat untuk berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan. Mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh hukuman atau hadiah, dan akan tetap berperilaku positif bahkan ketika tidak ada pengawasan.

Alasan mengapa motivasi nomor 3 sangat penting:

  • Dampak jangka panjang: Motivasi intrinsik memiliki dampak yang lebih tahan lama dibandingkan motivasi ekstrinsik. Murid yang termotivasi oleh nilai-nilai mereka sendiri akan lebih mungkin untuk terus berperilaku positif bahkan setelah mereka lulus sekolah.
  • Kemandirian: Murid yang termotivasi secara intrinsik mampu belajar dan berkembang secara mandiri. Mereka tidak selalu membutuhkan arahan atau dorongan dari orang lain untuk berperilaku baik.
  • Kebahagiaan: Murid yang termotivasi oleh nilai-nilai mereka sendiri lebih mungkin untuk merasa bahagia dan puas dengan diri mereka sendiri. Mereka juga lebih mungkin untuk menjalin hubungan yang positif dengan orang lain.


Slide : Posisi Kontrol Restitusi

Gossen telah berkesimpulan bahwa terdapat lima posisi kontrol yang dapat diterapkan seorang guru. Kelima posisi kontrol tersebut adalah guru sebagai Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau, dan Manajer. Mari kita lihat masing-masing penjelasan dari lima posisi kontrol ini:

1.      Penghukum Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Yang biasa dilakukan penghukum adalah menghardik, menunjuk-nunjuk, menyakiti, atau menyindir. Dampak pada murid dari seorang penghukum adalah perilaku kontrol negatif seperti murid mengulangi kesalahan berulang kali, lalu perilaku menjadi agresif.

2.       Pembuat Merasa Bersalah Pada posisi ini, biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Yang biasa dilakukan pembuat merasa bersalah adalah berceramah dan menunjukkan kekecewaan mendalam. Dampak pada murid dari seorang pembuat merasa bersalah adalah murid akan merasa rendah diri, merasa gagal, dan tidak berharga.

3.  Teman Guru pada posisi sebagai teman tidak akan menyakiti murid, namun selalu berupaya mengontrol murid melalui pendekatan persuasi. Yang biasa dilakukan posisi sebagai teman adalah membuatkan alasan-alasan untuk murid-muridnya. Dampak pada murid adalah murid akan tergantung, tidak mandiri, dan tidak bisa membuat keputusan sendiri.

4.   Pemantau Guru pada posisi ini biasanya selalu mengawasi atau memantau muridnya yang berpatokan pada catatan atau kesepakatan yang sudah disetujui. Yang biasa dilakukan posisi sebagai pemantau yaitu memantau, menghitung, dan mengukur kedisiplinan murid. Dampak bagi murid dari posisi kontrol pemantau yaitu menitikberatkan pada dampak pada diri sendiri, mendapatkan hadiah, atau mendapatkan hukuman.

5.     Manajer Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian bisa kembali ke kedua posisi tersebut bila diperlukan. Guru pada posisi ini biasanya berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, dan mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Yang dilakukan guru pada posisi manajer biasanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait nilai kebajikan yang telah diyakininya, atau pertanyaan yang berkaitan dengan solusi yang ditempuh berkaitan dengan pelanggaran tata tertib.

 

Dari kelima posisi kontrol di atas, apabila kita menginginkan murid-murid kita ke depannya menjadi manusia yang merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab, serta tumbuh motivasi intrinsik dalam diri mereka, maka kita perlu menerapkan Restitusi yang dapat mengarahkan dan menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri. Di dalam posisi kontrol manajer, murid diajak oleh guru mengevaluasi diri, bagaimana menjadi diri yang lebih baik, menganalisis kebutuhan dirinya, dan menganalisis kebutuhan orang lain. Di sini, penekanan bukan pada kemampuan memberikan konsekuensi kepada murid, tetapi guru dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.


Slide : Keyakinan Kelas

Setiap tindakan dan perilaku di dalam kelas menentukan terciptanya lingkungan positif. Kebiasaan ini akan membentuk budaya positif dalam jangka panjang. Untuk mewujudkan budaya positif ini, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menciptakan dan menyepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas. Keyakinan ini akan menjadi landasan nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama.

Mengapa Keyakinan Kelas Lebih Baik daripada Peraturan Kelas?

Keyakinan kelas lebih memotivasi seseorang secara intrinsik. Seseorang akan tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya mengikuti peraturan yang mengatur mereka harus berlaku begini atau begitu. Hal ini karena peraturan bisa memicu rasa tidak nyaman dan keterpaksaan.

Cara Pembuatan Keyakinan Kelas:

Lebih Abstrak: Keyakinan kelas tidak sedetail peraturan.

Pernyataan Universal: Keyakinan kelas ditulis dalam bentuk pernyataan yang universal.

Bentuk Positif: Gunakan kalimat positif dalam pernyataan keyakinan kelas.

Jumlah Terbatas: Buatlah keyakinan kelas secukupnya agar mudah diingat.

Penerapan Realistis: Pastikan keyakinan kelas dapat diterapkan di lingkungan kelas.

Partisipasi Penuh: Libatkan semua warga kelas dalam pembuatan keyakinan kelas melalui curah pendapat.

Peninjauan Berkala: Lakukan peninjauan kembali keyakinan kelas secara berkala.


Pembuatan Keyakinan Kelas pada kelas XI APAT




Slide : Segitiga Restitusi

Restitusi memberikan kesempatan kepada murid untuk disiplin positif, memulihkan diri dari kesalahan sehingga memiliki tujuan yang jelas. Penekanannya pada cara mereka menghargai nilai-nilai kebaikan yang diyakini, bukan berperilaku untuk menyenangkan orang lain. Restitusi membantu murid untuk jujur pada dirinya sendiri dan mengevaluasi dampak dari kesalahan yang dilakukan. Restitusi memberikan penawaran, bukan paksaan. Sangat penting bagi guru menciptakan kondisi yang membuat murid bersedia menyelesaikan masalahnya dan berbuat lebih baik lagi. Guru dapat menggunakan kalimat seperti “Semua orang pasti pernah berbuat salah,” bukan malah menyudutkan dengan memperjelas kesalahannya.

·         Menstabilkan Identitas

Pada bagian dasar segitiga merupakan langkah pertama restitusi, yaitu menstabilkan identitas. Bagian ini bertujuan merubah orang yang merasa gagal karena berbuat salah menjadi orang sukses. Kita harus mampu meyakinkan mereka misalnya dengan berkata, “Saya pernah melakukan hal yang sama denganmu.” Ketika seseorang dalam kondisi emosional, otak tidak mampu berpikir rasional. Kondisi ini sangat tepat kita gunakan untuk menstabilkan identitas. Kita membantu menenangkan mereka dan mencari solusi untuk permasalahannya.

·         Memvalidasi Tindakan yang Salah

Langkah kedua adalah memvalidasi tindakan yang salah. Pada langkah kedua, kita terlebih dahulu memahami kebutuhan dasar yang mendasari tindakan murid kita. Menurut teori kontrol, semua tindakan pasti memiliki tujuan, entah baik ataupun buruk. Ketika kita menolak murid yang berbuat salah, maka mereka akan tetap dalam masalah. Yang lebih diperlukan adalah kita memahami alasan mereka berbuat kesalahan sehingga mereka merasa dipahami.

·         Menanyakan Keyakinan Kelas

Menanyakan keyakinan kelas adalah langkah selanjutnya. Ketika langkah pertama dan kedua sukses dilakukan, maka anak lebih siap dikaitkan dengan nilai-nilai kebajikan yang dia percaya dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Kehidupan masa depan yang mereka inginkan sangat penting ditanyakan. Ketika gambaran masa depannya sudah ditemukan, maka guru dapat membantu mengarahkan mereka tetap fokus pada gambarannya. Segitiga restitusi dapat menumbuhkan motivasi internal murid untuk disiplin positif dan terbiasa mencari solusi dengan permasalahannya.

 


0 Komentar untuk "AKSI NYATA MODUL 1.4 DISEMINASI BUDAYA POSITIF"

Back To Top