Pendahuluan
Marilah kita awali dengan rasa syukur atas kesempatan
yang diberikan kepada kita untuk berkumpul di ruangan ini hari ini. Saya, FERDINAND
KOLY, Calon Guru Penggerak Angkatan 10 dari SMKN Alor Besar, ingin mengajak
Bapak/Ibu Guru untuk menyelami sebuah topik yang sangat penting bagi masa depan
pendidikan Indonesia, yaitu budaya positif di sekolah.
Seperti yang kita ketahui, profil pelajar Pancasila
telah ditetapkan sebagai pedoman untuk pendidikan di Indonesia. Profil ini
menggambarkan karakter ideal yang ingin kita tanamkan pada diri peserta didik.
Untuk mencapai profil tersebut, diperlukan lingkungan belajar yang positif,
aman, dan nyaman. Di sinilah peran budaya positif menjadi sangat
krusial.
Selama ini, penerapan disiplin di sekolah seringkali berfokus pada sistem penghargaan dan hukuman, yang belum tentu menumbuhkan motivasi internal pada siswa. Model disiplin ini juga belum sepenuhnya berpusat pada siswa, di mana guru masih menjadi figur sentral sebagai penghukum.
Tujuan
Kegiatan Desiminasi
- Terbentuknya tujuan pendidikan sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara.
- Adanya kolaborasi seluruh warga sekolah untuk penerapan budaya positif di sekolah. Timbulnya kesadaran seluruh warga sekolah
Saya percaya bahwa dengan membangun budaya positif di
sekolah, kita dapat mengantarkan peserta didik menjadi generasi penerus bangsa
yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi untuk kemajuan
bangsa.
Marilah kita bersama-sama mengikuti sosialisasi ini
dengan penuh semangat dan antusiasme. Pertanyaan dan masukan dari
Bapak/Ibu Guru sangatlah diharapkan untuk kelancaran dan kesuksesan acara ini.
Disiplin Positif
Pemahaman Umum tentang Disiplin
Banyak orang mengartikan disiplin sebagai tindakan
yang dilakukan seseorang terhadap orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Hal
ini sering dihubungkan dengan tata tertib, sanksi, dan hukuman bagi mereka yang
melanggar aturan.
Pandangan Ki Hajar Dewantara tentang Disiplin
Ki Hajar Dewantara, dalam bukunya "Pemikiran,
Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka" (Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470),
menyatakan bahwa untuk mewujudkan murid yang merdeka, mereka harus memiliki
disiplin yang kuat, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar diri.
Beliau menekankan bahwa:
- Kemerdekaan
dan disiplin harus berjalan seiring. Di mana ada kemerdekaan, di
situlah harus ada disiplin yang kuat.
- Disiplin
diri adalah kunci utama. Kita sendiri yang mewajibkan
diri kita dengan sekeras-kerasnya untuk disiplin.
- Jika
tidak mampu mendisiplinkan diri, diperlukan disiplin dari luar. Jika
kita tidak cakap melakukan self-discipline, wajiblah penguasa lain
mendisiplin diri kita.
- Peraturan
yang mendukung kemerdekaan diperlukan. Peraturan demikian itulah
harus ada di dalam suasana yang merdeka.
Definisi Merdeka menurut Ki Hajar Dewantara
Menurut Ki Hajar Dewantara, "merdeka" bukan hanya berarti terlepas dari perintah, tetapi juga cakap untuk memerintah diri sendiri.
Pandangan Diane Gossen tentang Disiplin
Diane Gossen, dalam bukunya "Restructuring School
Discipline" (2001), menyatakan bahwa disiplin memiliki konotasi positif,
yaitu disiplin diri yang memungkinkan seseorang menggali potensinya menuju
tujuan yang bermakna. Disiplin diri diartikan sebagai:
- Kemampuan
mengontrol diri. Bagaimana cara kita mengontrol diri, dan
bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada
nilai-nilai yang kita hargai.
- Tanggung
jawab atas tindakan. Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti
mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka
mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Kesimpulan
Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa murid yang memiliki disiplin positif akan memiliki motivasi internal yang tinggi untuk menguasai diri dan melakukan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal. Tugas pendidik adalah membimbing siswa untuk memiliki disiplin diri yang berasal dari diri mereka sendiri.
Slide
: Kebutuhan dasar manusia
Berdasarkan teori Kontrol, perilaku manusia selalu
memiliki tujuan. Dalam ruang lingkup sekolah, hal ini merujuk pada perilaku
siswa. Terkadang, kita tidak menyadari bahwa setiap perilaku yang dilakukan
pasti memiliki alasan dan tujuan tertentu. Penting untuk dipahami bahwa,
ketika siswa menunjukkan perilaku yang tidak baik, ada kemungkinan mereka
sedang berusaha memenuhi kebutuhan dasar mereka yang belum terpenuhi.
Terdapat lima kebutuhan dasar manusia yang
perlu dipenuhi, yaitu:
- Kebutuhan
Bertahan Hidup (Survival): Kebutuhan dasar ini mencakup
kebutuhan fisiologis seperti makanan, air, tempat berlindung, dan
keamanan.
- Kebutuhan
Cinta dan Kasih Sayang (Penerimaan): Kebutuhan ini meliputi rasa
memiliki, diterima, dan dicintai oleh orang lain.
- Kebutuhan
Penguasaan (Pengakuan): Kebutuhan ini berkaitan dengan keinginan untuk
merasa kompeten, dihargai, dan diakui atas pencapaiannya.
- Kebutuhan
Kebebasan (Kebutuhan dan Pilihan): Kebutuhan ini terkait dengan
keinginan untuk memiliki otonomi, membuat pilihan sendiri, dan
mengendalikan hidup mereka.
- Kebutuhan
akan Kesenangan: Kebutuhan ini berkaitan dengan keinginan untuk
merasa bahagia, puas, dan menikmati hidup.
Memahami kebutuhan dasar siswa sangatlah penting bagi para pendidik. Dengan memahami kebutuhan dasar mereka, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan membantu siswa untuk mengembangkan perilaku yang positif.
Slide
: Motivasi Perilaku Manusia
Menurut Diane Gossen dalam bukunya "Restructuring
School Discipline", terdapat tiga alasan utama yang mendasari
motivasi perilaku manusia, yaitu:
- Untuk
menghindari ketidaknyamanan atau hukuman.
Motivasi ini didorong oleh rasa ingin terhindar dari konsekuensi negatif,
seperti rasa sakit, teguran, atau hukuman.
- Untuk
mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Motivasi ini didorong oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang
positif, seperti pujian, hadiah, atau pengakuan atas tindakan mereka.
- Untuk
menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan
nilai-nilai yang mereka percaya. Motivasi ini merupakan
motivasi intrinsik yang paling tinggi tingkatannya. Orang yang termotivasi
oleh hal ini ingin menjadi pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai mereka
dan bangga dengan diri mereka sendiri.
Motivasi nomor 3 inilah yang paling penting untuk
ditanamkan dalam diri murid-murid untuk mewujudkan disiplin positif. Dengan
memiliki motivasi ini, mereka akan memiliki dorongan internal yang kuat untuk
berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan. Mereka tidak akan
mudah terpengaruh oleh hukuman atau hadiah, dan akan tetap berperilaku positif
bahkan ketika tidak ada pengawasan.
Alasan mengapa motivasi nomor 3 sangat penting:
- Dampak
jangka panjang: Motivasi intrinsik memiliki dampak yang lebih
tahan lama dibandingkan motivasi ekstrinsik. Murid yang termotivasi oleh
nilai-nilai mereka sendiri akan lebih mungkin untuk terus berperilaku
positif bahkan setelah mereka lulus sekolah.
- Kemandirian: Murid
yang termotivasi secara intrinsik mampu belajar dan berkembang secara
mandiri. Mereka tidak selalu membutuhkan arahan atau dorongan dari orang
lain untuk berperilaku baik.
- Kebahagiaan: Murid yang termotivasi oleh nilai-nilai mereka sendiri lebih mungkin untuk merasa bahagia dan puas dengan diri mereka sendiri. Mereka juga lebih mungkin untuk menjalin hubungan yang positif dengan orang lain.
Slide
: Posisi Kontrol Restitusi
Gossen telah berkesimpulan bahwa terdapat
lima posisi kontrol yang dapat diterapkan seorang guru. Kelima posisi kontrol
tersebut adalah guru sebagai Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau,
dan Manajer. Mari kita lihat masing-masing penjelasan dari lima posisi kontrol
ini:
1. Penghukum
Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Yang biasa
dilakukan penghukum adalah menghardik, menunjuk-nunjuk, menyakiti, atau
menyindir. Dampak pada murid dari seorang penghukum adalah perilaku kontrol
negatif seperti murid mengulangi kesalahan berulang kali, lalu perilaku menjadi
agresif.
2. Pembuat
Merasa Bersalah Pada posisi ini, biasanya guru akan
bersuara lebih lembut. Yang biasa dilakukan pembuat merasa bersalah adalah
berceramah dan menunjukkan kekecewaan mendalam. Dampak pada murid dari seorang
pembuat merasa bersalah adalah murid akan merasa rendah diri, merasa gagal, dan
tidak berharga.
3. Teman
Guru pada posisi sebagai teman tidak akan menyakiti murid, namun selalu
berupaya mengontrol murid melalui pendekatan persuasi. Yang biasa dilakukan
posisi sebagai teman adalah membuatkan alasan-alasan untuk murid-muridnya.
Dampak pada murid adalah murid akan tergantung, tidak mandiri, dan tidak bisa
membuat keputusan sendiri.
4. Pemantau
Guru pada posisi ini biasanya selalu mengawasi atau memantau muridnya yang
berpatokan pada catatan atau kesepakatan yang sudah disetujui. Yang biasa
dilakukan posisi sebagai pemantau yaitu memantau, menghitung, dan mengukur
kedisiplinan murid. Dampak bagi murid dari posisi kontrol pemantau yaitu menitikberatkan
pada dampak pada diri sendiri, mendapatkan hadiah, atau mendapatkan hukuman.
5. Manajer
Seorang
manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan
demikian bisa kembali ke kedua posisi tersebut bila diperlukan. Guru pada
posisi ini biasanya berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid
mempertanggungjawabkan perilakunya, dan mendukung murid agar dapat menemukan
solusi atas permasalahannya sendiri. Yang dilakukan guru pada posisi manajer
biasanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait nilai kebajikan yang telah
diyakininya, atau pertanyaan yang berkaitan dengan solusi yang ditempuh
berkaitan dengan pelanggaran tata tertib.
Dari kelima posisi kontrol di atas,
apabila kita menginginkan murid-murid kita ke depannya menjadi manusia yang
merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab, serta tumbuh motivasi intrinsik dalam
diri mereka, maka kita perlu menerapkan Restitusi yang dapat mengarahkan dan
menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri. Di dalam posisi
kontrol manajer, murid diajak oleh guru mengevaluasi diri, bagaimana menjadi
diri yang lebih baik, menganalisis kebutuhan dirinya, dan menganalisis
kebutuhan orang lain. Di sini, penekanan bukan pada kemampuan memberikan
konsekuensi kepada murid, tetapi guru dapat berkolaborasi dengan murid
bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.
Slide
: Keyakinan Kelas
Setiap tindakan dan perilaku di dalam kelas menentukan
terciptanya lingkungan positif. Kebiasaan ini akan membentuk budaya positif
dalam jangka panjang. Untuk mewujudkan budaya positif ini, langkah pertama yang
perlu dilakukan adalah menciptakan dan menyepakati keyakinan-keyakinan atau
prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas. Keyakinan ini akan
menjadi landasan nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama.
Mengapa Keyakinan Kelas Lebih Baik daripada Peraturan
Kelas?
Keyakinan kelas lebih memotivasi seseorang secara
intrinsik. Seseorang akan tergerak dan bersemangat untuk menjalankan
keyakinannya, daripada hanya mengikuti peraturan yang mengatur mereka harus
berlaku begini atau begitu. Hal ini karena peraturan bisa memicu rasa tidak
nyaman dan keterpaksaan.
Cara Pembuatan Keyakinan Kelas:
Lebih
Abstrak: Keyakinan kelas tidak sedetail peraturan.
Pernyataan
Universal: Keyakinan kelas ditulis dalam bentuk pernyataan yang universal.
Bentuk
Positif: Gunakan kalimat positif dalam pernyataan keyakinan kelas.
Jumlah
Terbatas: Buatlah keyakinan kelas secukupnya agar mudah diingat.
Penerapan
Realistis: Pastikan keyakinan kelas dapat diterapkan di lingkungan kelas.
Partisipasi
Penuh: Libatkan semua warga kelas dalam pembuatan keyakinan kelas melalui curah
pendapat.
Peninjauan
Berkala: Lakukan peninjauan kembali keyakinan kelas secara berkala.
Pembuatan Keyakinan Kelas pada kelas XI APAT
Slide
: Segitiga Restitusi
Restitusi memberikan kesempatan kepada
murid untuk disiplin positif, memulihkan diri dari kesalahan sehingga memiliki
tujuan yang jelas. Penekanannya pada cara mereka menghargai nilai-nilai
kebaikan yang diyakini, bukan berperilaku untuk menyenangkan orang lain.
Restitusi membantu murid untuk jujur pada dirinya sendiri dan mengevaluasi
dampak dari kesalahan yang dilakukan. Restitusi memberikan penawaran, bukan
paksaan. Sangat penting bagi guru menciptakan kondisi yang membuat murid
bersedia menyelesaikan masalahnya dan berbuat lebih baik lagi. Guru dapat
menggunakan kalimat seperti “Semua orang pasti pernah berbuat salah,” bukan
malah menyudutkan dengan memperjelas kesalahannya.
·
Menstabilkan Identitas
Pada
bagian dasar segitiga merupakan langkah pertama restitusi, yaitu menstabilkan
identitas. Bagian ini bertujuan merubah orang yang merasa gagal karena berbuat
salah menjadi orang sukses. Kita harus mampu meyakinkan mereka misalnya dengan
berkata, “Saya pernah melakukan hal yang sama denganmu.” Ketika seseorang dalam
kondisi emosional, otak tidak mampu berpikir rasional. Kondisi ini sangat tepat
kita gunakan untuk menstabilkan identitas. Kita membantu menenangkan mereka dan
mencari solusi untuk permasalahannya.
·
Memvalidasi Tindakan yang Salah
Langkah
kedua adalah memvalidasi tindakan yang salah. Pada langkah kedua, kita terlebih
dahulu memahami kebutuhan dasar yang mendasari tindakan murid kita. Menurut
teori kontrol, semua tindakan pasti memiliki tujuan, entah baik ataupun buruk.
Ketika kita menolak murid yang berbuat salah, maka mereka akan tetap dalam
masalah. Yang lebih diperlukan adalah kita memahami alasan mereka berbuat
kesalahan sehingga mereka merasa dipahami.
·
Menanyakan Keyakinan Kelas
Menanyakan
keyakinan kelas adalah langkah selanjutnya. Ketika langkah pertama dan kedua
sukses dilakukan, maka anak lebih siap dikaitkan dengan nilai-nilai kebajikan
yang dia percaya dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Kehidupan masa
depan yang mereka inginkan sangat penting ditanyakan. Ketika gambaran masa
depannya sudah ditemukan, maka guru dapat membantu mengarahkan mereka tetap
fokus pada gambarannya. Segitiga restitusi dapat menumbuhkan motivasi internal
murid untuk disiplin positif dan terbiasa mencari solusi dengan
permasalahannya.






0 Komentar untuk "AKSI NYATA MODUL 1.4 DISEMINASI BUDAYA POSITIF"