Gagal
Mengeluh Karena Seorang Nenek Tua
Ilustrasi
Ceritanya
saat ini saya sedang mengalami masalah hidup karena dagangan saya sepi pembeli
dan modal usaha yang terus menerus terpakai untuk kebutuhan hidup. Selain
penghasilan yang berkurang drastis, nyatanya pengeluaran malah bertambah banyak
karena beberapa waktu yang lalu saudara sakit dan mau tak mau harus ikut
membantu keuangannya.
Dagang
dari pagi hingga sore gak ada pembeli satu pun dan rasanya sangat sedih. Ini
bukan pertama kalinya karena sudah beberapa hari, ah bukan, beberapa minggu, oh
tidak, maksudnya sudah beberapa bulan ini terjadi dan tentu saja sangat
menyulitkan hidup saya dari segi ekonomi.
Kondisi
mood yang sedang tidak baik ditambah dengan cuaca yang tiba-tiba saja hujan,
padahal dari pagi hingga sore masih cerah. Nah, karena keadaan hati sedang
buruk, saya tidak menggunakan jas hujan, niatnya ingin sambat di jalan sambil
menangis biar gak keliatan banget bekas meweknya.
Eh
tapi di tengah jalan hujan tambah deras dan angin lumayan kencang, daripada
sakit mending berhenti dulu memakai jas hujan. Pas lagi buka jok motor untuk
mengambil jas hujan, tiba-tiba saja datang seorang nenek tua yang menghampiri.
Nenek
: mas mau kemana?
Saya
: mau pulang mbah
Nenek
: saya ikut nebeng dong mas
Saya
: pulangnya kemana mbah?
Nenek
: ke desa ****
Saya
: oh gitu, tapi gak searah ya mbah
Nenek
: ya udah gak papa mas, ke perempatan situ aja gak papa, saya sudah capek
Saya
: lha si mbah darimana, kok pakai helm malah jalan kaki?
Nenek
: baru pulang kerja mas, ini nungguin anak jemput tapi gak datang-datang dan
keburu malam
Saya
: ya sudah yuk nek ikut aja
Di
tengah jalan hujan tambah deras, yang tadinya saya mau nganterin si mbah ke
perempatan aja jadi gak tega hingga akhirnya saya anterin sekalian ke rumahnya.
Padahal arah rumahnya berlawanan dan lumayan jauh, terus lihat jarum bensin
ternyata menunjukkan arah yang memberitahukan mau habis.
Dalam
hati cuma bisa berdo'a, semoga bensinnya bisa cukup sampai rumah karena kondisi
hujan deras dan sudah malam jarang ada warung bensin yang buka.
Masuk
ke desanya si nenek ini, lalu masuk gang sempit dan belok-belok terus sampai
mentok di jalan gang terakhir. Berhenti di sebuah rumah kecil semi permanen
yang sepi, entah karena sudah mulai gelap atau memang kondisi di situ memang
sepi.
Turun
dari motor, si nenek menyodorkan uang 10 ribu, dia bilang untuk terimakasih
kepada saya karena sudah mengantarkan ke rumah. Tentu saja saya menolaknya
mentah-mentah, bukan karena saya sombong atau merasa sok tidak butuh uang.
Namun saya merasa bahwa tidak pantas bagi saya menerima uang dari si nenek,
apalagi saya mengantarkannya dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan seperti
yang ditawarkan si nenek ini.
Saya
pamitan kepada si nenek, beliau terus berterima kasih dan perlahan berlalu dari
gang sempit itu hingga masuk ke jalan desa. Pikiran negatif yang sebelumnya
sudah hendak saya muntahkan dengan keluhan kepada Tuhan tiba-tiba saja
menghilang tanpa bekas, bahkan saya sampai malu mengingat rencana saya tadi
yang hendak mengeluhkan keadaan hidup kepada Tuhan.
Terkadang
saya memang kurang bersyukur dengan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan. Saya
bisa hidup di rumah yang nyaman, di lingkungan yang damai, mau pergi ada motor,
mau beli ini itu masih punya uang - meski pas-pasan -, bisa makan enak setiap hari,
sehat, banyak teman dan berbagai nikmat yang telah Tuhan berikan. Namun, karena
beberapa cobaan yang Tuhan berikan ternyata saya terlupa dengan nikmat yang ada
dan terlalu lemah untuk segera mengeluhkan hidup.
Ya
Tuhan ... maafkan hambamu ini yang kurang bersyukur dengan segala nikmat yang
telah engkau berikan.

0 Komentar untuk "Gagal Mengeluh Karena Seorang Nenek Tua"