Abdul
Somad Gagal Ceramah Di Kudus Karena Tidak Berguna Dan Bermanfaat?
Indonesia
tanah air beta, beragam-ragam suku, agama dan budaya semua ada di Indonesia.
Semuanya hidup rukun, damai dan saling menghargai.
Indonesia
negara muslim terbesar di dunia, hal ini tidak akan terjadi jika tidak ada para
walisongo yang menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya, dengan
menghargai budaya leluhur Indonesia, dakwah melalui kesenian-kesenian dilakukan
mereka seperti melalui wayang, dakwah dilakukan dengan tetap menghargai budaya
lokal Indonesia yang beragam ini.
Namun
semua berubah sejak negara api menyerang, busana nusantara yang beragam dari
Sabang sampai Merauke sekarang hanya sebagai pertanda bahwa yang memakainya
adalah orang yang kurang beriman, dikarenakan muslim harus memakai pakaian yang
menutup seluruh bagian tubuh dan hanya menyisakan wajah, bahkan beberapa hanya
menyisakan mata saja. Memakai konde, kebaya dan semua pakai adat sekarang semua
haram bagi masyarakat negara api.
Kesenian-kesenian
Indonesia seperti tari saman asal Aceh, dan tari jaipongan, bajidoran asal Jawa
Barat, sekarang juga haram bagi para masyarakat negara api, termasuk wayang
yang dulu dipakai walisongo untuk menyebarkan agama Islam, sekarang sudah haram
bagi penganut negara api yang semakin hari semakin banyak, semakin radikal.
Siapa
penyebab semua ini? Tentu karena banyaknya para penceramah-penceramah kaum
radikal yang sekarang menjadi idola bangsa kita.
Sekarang
ustad kaum radikal tersebut akan berceramah di kota Kudus, kota walisongo Sunan
Kudus yang menyebarkan agama Islam dan berdakwah dengan toleran. Melarang
pengikutnya menyembelih sapi karena menghargai budaya lokal, peninggalan berupa
delapan pancuran dengan hiasan relief arca, dan menara kudus yang berbentuk
seperti pura atau candi adalah beberapa contoh betapa toleran Sunan Kudus
menyebarkan agama Islam. Masih ingat kan masjid Ridwan Kamil yang diprotes
ustad radikal Baequni karena katanya ada simbol Illuminati? Berbeda jauh dengan
toleransi yang diajarkan Sunan Kudus.
Ustad
radikal yang akan berceramah di kota Kudus tersebut bernama Abdul Somad, dia
yang setiap ceramahnya selalu melakukan provokasi. Logo ambulans dituduh
sebagai upaya pemurtadan, menonton drama korea artinya kafir, lalu mengejek
Tuhan agama lain dengan gerakan-gerakan yang melecehkan, menghina kata suci
umat agama lain yang artinya Puji Tuhan dianggap sebagai cara untuk pemurtadan,
menghina manusia ciptaan Tuhan dengan sebutan pesek, menghina keturunan cina sama
dengan setan dan banyak ceramah provokasi lainnya.
Ceramah-ceramah
seperti Abdul Somad adalah cara berceramah yang sangat bertentangan dengan cara
ceramah Sunan Kudus yang penuh toleransi, karena itu wajar rasanya bila Abdul
Somad dibatalkan ceramahnya di kota Kudus yang damai dan penuh toleransi
tersebut. Alasan pembatalan tersebut adalah :
"Demi kemaslahatan
bersama."
Dalam
kamus besar Bahasa Indonesia Kemaslahatan artinya kegunaan; kebaikan; manfaat;
kepentingan. Penulis tidak pernah tedeng aling-aling, maka arti dari penolakan
ini adalah bahwa ceramah Abdul Somad tidak mengandung kebaikan, tidak memiliki
manfaat, tidak berguna dan sangat-sangat tidak penting karena itu ceramahnya
dibatalkan agar terjadi kemaslahatan bersama bagi seluruh warga Kudus dan
Indonesia andaikan ceramah Abdul Somad akhirnya menyebar di media sosial.
Bagaimana
mau mengandung kebaikan kalau isinya cuma kebencian dan mengharamkan segala
sesuatu? Tidak perlu ustad, tukang obat pinggir jalan sekalipun akan hebat
melakukan hal tersebut, lihat saja Sugi Nur yang dulunya penjual obat. Mahir
bukan?
Bagaimana
mau bermanfaat dan berguna, kalau ceramah-ceramah Abdul Somad selama ini lebih
sering menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara umat beragama di
Indonesia? Maka penolakan tersebut bagi penulis sudah sangat tepat, kalau sudah
kejadian seperti yang sudah-sudah maka hanya akan memupuk kebencian di antara
masyarakat Indonesia, karena yang ceramah dikenal selalu merasa benar dan
enggan meminta maaf.
Tapi
pendukung Abdul Somad tidak perlu kecewa, Abdul Somad tetap akan hadir dan
meletakkan batu pertama di Ponpes Al Achsaniyyah, Kudus. Ini adalah bukti bahwa
masyarakat Kudus sangat damai dan terbuka bagi siapapun, selama tidak
mengganggu kemaslahatan bersama.
Kesimpulan
:
Setelah
Yogyakarta, kini Kudus menolak Abdul Somad untuk berceramah. Seperti yang
penulis katakan sebelumnya kalau Abdul Somad seharusnya ditolak ceramah di
seluruh Indonesia, maka penulis menunggu daerah-daerah lainnya untuk menolak
ceramah Abdul Somad demi kemaslahatan bersama seperti kata Pengasuh Ponpes Al
Achsaniyyah Kudus, KH Moh Faiq Afthoni.
Sumber : http://seword.com

0 Komentar untuk "Abdul Somad Gagal Ceramah Di Kudus Karena Tidak Berguna Dan Bermanfaat?"